Dua “Kembang” Pengarang Muda

(Catatan atas dua cerpen: Benny Arnas dan Wa Ode Wulan Ratna)

dimuat di majalah online kesusastraan poetikaonline.com, edisi desember 2010

Menarik mengamati dua cerita pendek (cerpen) dari pengarang muda handal yang dimiliki negeri ini: Benny Arnas dan Wa Ode Wulan Ratna. Mereka tumbuh mengangkat tradisi-lokalitas kebudayaan tanah air kita dalam setiap karangannya. Lihat saja cerpen-cerpennya yang telah mereka bukukan dan banyak mendapat apresiasi dari banyak kalangan. Bulan Celurit Api karangan Benny Arnas (Penerbit Koekoesan, 2010) dan Cari Aku di Canti karya Wa Ode Wulan Ratna (Lingkar Pena Publishing House, 2008).

Wa Ode Wulan Ratna yang sejak saya menemukan dan membaca bukunya, mencuri hati saya itu, bukan saja mampu mengetengahkan “selipan” kebudayaan lokalitas dalam setiap cerpennya (lihat buku Cari Aku di Canti). Namun ia juga mampu membungkus sekelumit ritual budaya tertentu dalam cerita yang dramatis dan terkadang biasa (konfliknya). Simak saja La Runduma, cerita berlatar Buton dari kisah gadis yang tak direstuinya hubungan mereka oleh ayah sang gadis hanya karena perbedaan derajat si lelaki dengan keluarga gadis. Atau Cari Aku di Canti, perempuan yang memberontak dan melarikan diri karena tak ingin terperangkap dalam cinta yang tak bisa direngkuhnya. Dan banyak lagi.

Namun kehebatannya adalah Wa Ode tak hanya mengemas cerita dengan tradisi-lokal budaya tertentu saja, namun ia juga menampilkan representasi kearifan dan ketidakarifan lokal budaya. Seakan-akan, Wa Ode membaca tanda-tanda kekinian (global-modernitas) yang ingin ia “hujat” namun ia bisa lebih arif memaknainya dalam bahasa tradisi-lokalitas sebagai bentuk representasinya.

Sebab dalam dalam bahasan semiotika, menurut Peirce, terdapat prinsip mendasar dari sifat tanda, yaitu representatif dan interpretatif. Sifat representatif berarti tanda merupakan sesuatu yang mewakili sesuautu yang lain (something that presents something else). Sedangkan sifat interpretatif artinya bahwa tanda tersebut memberi peluang bagi interpretasi tergantung kepada siapa yang memakai dan menerimanya. Dalam konteks ini Peirce memandang bahwa proses pemaknaan menjadi penting karena manusia memberi makna pada realitas yang ditemuinya. Hal ini secara tegas mengandaikan bahwa menurut Peirce, bahasa memiliki keterkaitan dengan realitas (Rusmana, 2009:76).

Sedikit berbeda dengan Wa Ode, cerita Benny Arnas adalah legenda (lihat buku Bulan Celurit Api) yang lebih banyak ingin mengedepankan dekontruksi. Ada banyak sejarah tradisi yang belum banyak diketahui masyarakat kita dalam hal ini kebudayaan di mana Benny berangkat: Lubuklinggau-Sumatera Selatan.

Lihat saja kisah (dalam Bulan Celurit Api) Bujang Kurap atau Kembang Tanjung Kelopak Tujuh. Selain itu, Benny bagai seorang penghikayat, sebab apa yang diceritakannya adalah menuturkan kembali gaya hikayat kebudayaan di mana ia lahir tanpa mengurangi kekhasannya. Serupa pula dengan Wa Ode, lagi-lagi Benny jatuh bangun mengeksplor bahasa yang kaya (kalau bisa dibilang puitis) dalam diksi-diksi ceritanya.

Dua “Kembang”

Rupanya kesempatan kali ini pandangan saya tertuju untuk sedikit membicarakan dua cerpen mereka, yang bagi saya, memiliki sejarah keberangkatan yang sama. Mata saya tertuju pada cerpen dua “kembang”: Kembang Tanjung Kelopak Tujuh karya Benny Arnas. Dan Kembang Sri Gading karya Wa Ode Wulan Ratna. Dua kisah yang bermula pada legenda “kembang”. Tetumbuhan yang (ternyata) memiliki peran dalam peredaran sejarah mitos legenda rakyat di tanah air kita. Bahkan pada cerita Wa Ode, legenda “kembang” ini membalur-lumuri pada tak hanya sebuah legenda, tapi juga dogma atau ajaran (Buddha).

Kembang Sri Gading. Alkisah seorang perempuan bernama Pandu Wangi. Setelah beratus-ratus tahun kemudian bereinkarnasi dan menjelma perempuan yang hidup di masa kini kemudian mencari sepenggal kisah cintanya yang hilang. Kembang Sri Gading (tokoh aku). “Setelah berabad-abad usai, kau tiada beranak pinak. Maka kugunakan nama kembang itu untuk namaku pada reinkernasiku yang kesekian..”. Ia mencari Sudhana. Seorang lelaki muda yang yang meninggalkan segala nafsu angkara murka untuk bertapa menempuh moksa (keadaan jiwa bebas dari segala bentuk ikatan). Setelah sebelumnya ia terlibat cinta dengan Pandu Wangi. “Pintu aib itu Dhana, meski kini terkunci tapi ia menyimpan memori bahwa bau kembang itu melumat mati setiap tetes manimu yang hendak membentuk daging dalam kandung rahimku.”

Hingga akhirnya, Pandu Wangi dalam reinkernasinya yang kesekian, ia menelusuri lekuk tubuh Candi Borobudur, membaca segala isyarat dalam relief, stupa dan arca-arca. Ia berharap (bahkan menduga) ia akan menemui Sudhana dengan segala derajatnya di sana. Di Candi Borobudur. Maka ia selalu menggugat kedudukan Sudhana walau ia telah mencapai puncak arhat (tingkat pertama dalam ajaran Budha yang harus dicapai untuk mencapai kesempurnaan manusia dan merupakan pintu utama dalam berkomunikasi dengan alam ritual).

“Dhana, kakiku bergetar memasuki rumahmu. Apa aku sekotor itu? Apa kini aku pun sekotor itu hingga aku tak patut bertemu denganmu? Mungkin saja kau telah moksa. Tapi aku tahu, nafasmu masih tertinggal di sini, melekat pada batu-batu langkan, pada jalawadra, batu-batu kulit dan batur, pada stupa dan arca-arca. Dan pada puncaknya mungkin saja kau tak pernah sampai pada pari nibbana sebab kau tahu ada satu perempuan dari kasta rendah yang dulu pernah kau kecewakan. Apakan setelah ini kau pun masih berpikir itu adalah sang iblis yang menggodamu dan menjerumuskanmu ke lembah dosa?”

Perempuan reinkernasi itu pun mencapai puncak paling tinggi di Candi Borobudur, yang mengganggap Sudhana bertapa di sana. Di Arupadhatu. Puncak terkhir.

Gerimis menjulur. Langit bergetar. Perempuang itu bertahan di sana. Lalu akhir cerita, ia diberitakan oleh sebuah surat kabar tewas tersambar petir di puncak Arupadathu.

Kembang Tanjung Kelopak Tujuh. Hikayat Kembang Tanjung adalah mitos hantu. Hikayat yang bergentayangan menyeriap dari mulut ke mulut penduduk. Gambaran hantu Kembang Tanjung (sebagaimana dideskripskan Benny) adalah perempuan yang datang dari utara Sumatera Selatan. “Perempuang yang di dekat daun telinga sebelah kanan, terselip setangkai kembang tanjung berkelopak tujuh…. Apabila malam hari kau bertemu dengan perempuan yang di antara lubang hidungnya menetes-netes cairan hijau muda kental semacam ingus, maka berdoa saja agar ia tak membuka mulut dan berkata-kata padamu. Kau takkan dapat berbalik arah untuk lari menjauhinya. Tak kan.” Hikayat Kembang Tanjung ini bermula dari perempuan jelita bernama Putri Selendang Kuning yang menurut cerita ditakdirkan bersuami Raja Biku, penguasa di sebuah daerah.

Atas kehendak langit, mereka dikaruniai enam orang anak, seorang lelaki dan lima perempuan. Dan seorang perempuan di antaranya adalah Dayang Torek, perempuan yang dikisahkan menjadi ibu yang melahirkan Kelopak Tanjung Ketujuh. Keenam anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang tampan dan cantik jelita. Dikagumi banyak orang, melintasi pulau-pulau.

Hingga akhirnya tragedi demi tragedi menerjang keluarga mereka. Masing-masing anak Putri Selendang Kuning mengalami tragedi kematian dan kehilangan. Semuanya ditarik kembali oleh Langit. Suaminya, Raja Biku pun meninggal saat perjalanan menuju Cina. Dan satu-satunya yang telah memiliki cucu adalah Dayang Torek, yang menurut kisah, anak berusia dua bulan itu sengaja dibunuh oleh kakaknya sendiri, Sebudur karena beranggapan bayi itu tak layak dijadikan bibit keturunan kerajaan. Hingga semua itu disadari Putri Selendang Kuning bermuara pada satu syarat yang pernah disepakatinya dengan Langit:

“Suatu saat akan lahir enam orang anak, sesuai dengan jumlah kelopak kembang tanjung (yang kuturunkan). Namun dalam batas yang telah ditentukan, mereka pun harus kembali ke kayangan.”

Dari sanalah asal muasal kisah. Putri Selendang Kuning memohon agar keturunannya yang telah diambil naik oleh langit disempurnakan menjadi kembang tujuh kelopak bersama cucunya dari keturunan si Dayang Torek.

“Langit, lupakah kau bahwa cucu pertamaku juga telah kaujemput? Jangan-jangan kau yang membisikkan Sebudur untuk membunuhnya pula? Tapi tak apa. Tak dapat kuharap nasi kembali menjadi padi. Maka, takkah kau sempurnakan kembang tanjung itu agar berkelopak tujuh? Agar bersua cucu pertamaku itu dengan ibunya, si Dayang Torek?”

Pada masing-masing cerita yang disuguhkan Wa Ode dan Banny adalah skandal sejarah. Sebuah epos ketidakarifan budaya. Alkisah yang apik namun terselubung peristiwa abu-abu yang justru di sanalah bersembunyi pendar-pendar sejarah tradisi yang eksotis.

Mitos adalah pagar batas yang bisa saja dibuka ke dalam realitas fakta walaupun dengan pemaknaan yang berbeda. Dan hal ini tentunya, seperti diungkapkan Peirce di atas adalah sebentuk representasi. Representasi sosial masyarakat kekinian yang dipandang dalam ruang-ruang legenda budaya lokal.

Karena itulah, setidaknya asumsi saya, perkara ini yang banyak dieksploitasi para pengarang sebagai bahan sebuah dekonstruksi (fiksi) sejarah ataupun budaya (tradisi). Sebagaimana Dan Brown mengacak-acak, menyelimpang dari sejarah “dogma” kristiani dalam Da Vinci Code, yang walau demikian, akhirnya inilah kehebatan fiksi. Segala amuk amarah kita terhadap penyimpangan sejarah akan segera redam. Sebab tiada lagi batas kebenaran dalam fiksi. Semuanya (seperti) sah dan benar. Karena “tuhan” pengaranglah yang berkuasa.

Mitos “Kembang”

Ada alasan menarik yang membuat saya ingin sedikit membicarakan kedua cerpen ini dari pengarang yang berbeda. Yaitu mitos tumbuhan. Sebenarnya titik fokus kedua pengarang ini adalah pada tumbuhan: Kembang Tanjung dan Kembang Sri Gading. Namun bagaimana tidak, sejarah tumbuhan ini menyangkut sejarah besar sebuah budaya. Perkara “kembang” ini menyeret-nyeret serentetan tragedi budaya masyarakat yang mungkin banyak sebagian orang tak banyak tahu ataupun sedikit orang yang mengenal.

Walaupun kedua pengarang ini dengan lelah menyajikan hidangan fiksi untuk mengetegahkan perkara menarik dari fenomena budaya yang hadir. Namun tetap saja tak semua pengetahuan bisa cukup disampaikan dalam fiksi. Oleh karenanya mereka sama-sama memanfaatkan catatan kaki sebagai penjelas.

Perkara sejarah budaya inilah yang mereka ketengahkan sebagai konflik dan terpaksa arah fokus penceritaan mereka sebagai mitos “kembang” tadi harus mereka tutup dengan penjelasan cerita sebenarnya apa itu Kembang Sri Gading. Dan apa itu Kembang Tanjung.

Simak saja Wa Ode bagaimana mengetengahkan kisah Kembang Sri Gading di akhir ceritanya:

“Aku moksa. Orang-orang, para wisatawan, dan delman bisa saja berlalu lalang tak menghiraukanku. Atau pula tak sengaja menginjakku dan mengencingiku. Aku maklum sebab aku tumbuh di tempat yang cukup ramai. Namun bagi mereka yang berkesempatan atau iba melihatku, sesaat mereka akan berhenti untuk memperhatikannya, lalu tahulah mereka bahwa akulah tumbuhan itu. Tumbuhan di mana perempuan-perempuan dulu menumbuknya, mengambil sarinya yang lengket untuk digunakan sebagai alat kontrasepsi.”

Dan perhatikan juga bagaimana Benny menceritakan Kembang Tanjung:

“Kampung kami adalah kampung (zaman) dahulu. Demikian digambarkan tabiat penduduknya. Tak ada yang mau percaya bahwa (kini) kembang tanjung adalah tanaman langka! Batangnya kokoh dan lebih kuat dari akasia. Kanopinya rimbun dengan bunga putih menyala. Elok nian, kan?”

Daya Ungkap

Benny (sepertinya) masih bisa mempertahankan daya ungkapnya dalam kapasitasnya sebagai anak tradisi (Sumatera Selatan). Hal ini kalau kita melihat karya yang lahir dari tangannya adalah sebentuk hikayat “kebudayaan” melayu di mana ia berpijak. Daya ungkap ini bukan semata banyak munculnya (kalau bukan disebut eksploitasi) istilah yang ingin ia pertontonkan sebagai istilah kebudayaan Sumatera. Atau sekadar unjuk kekhasan sebuah karya. Namun juga penegasan identitas kebudayaan, walau dengan susah payah ia harus bernegosiasi dengan global-nasionalitas estetik karya. Karena mau tidak mau sebagian besar karyanya dipublikasikan pada media dengan kapasitas global (umum).

Berbeda dengan Wa Ode, ia sepertinya (menurut tafsiran saya atas karyanya) ingin merekam jejak tradisi-sejarah kebudayaan lain atau di luarnya (karena ia tumbuh dan berkembang di Jakarta), sehingga ia hanya berkuasa pada segenap istilah tradisi-sejarah itu dan tidak pada daya ungkapnya (walau ia juga seperti jatuh bangun ingin manguasainya).

Namun bagi saya keduanya telah kuat memilih daya ungkapnya masing-masing. Sebuah penceritaan puitis tentunya dalam sejarah sastra tradisi-lokal kita yang mampu bernegosiasi dengan apresiasi sastra masyarakat kita di era global.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s